RSS

WANITA HEBAT

02 Nov

ibu-dan-anak1

Matahari masih bersembunyi dibalik perbukitan, suara azan subuhpun masih sangat jelas terdengar. Namun kesibukan sudah terasa di dapur sumiati, wanita parubaya itu harus menyiapkan sarapan bagi dirinya dan juga ketiga anaknya masih duduk dibangku sekolah. Ani anak pertama dari sumiati bangun dan segera salat subuh untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim. Dilihatnya sang bunda sedang memasak untuk dirinya dan kedua saudaranya, Sumiatipun menoleh kepada Ani.

            “Sudah salat subuh kamu nak”tanya Sumiati sambil tersenyum. “sudah bu” Jawab Ani. Tanpa diminta oleh sang ibu Ani langsung saja membantu sang Ibu yang dari tadi sibuk memasak didapur. Sumiati lantas mengambil beberapa helai daun pisang yang akan ia gunakan untuk membungkus nasi senagai bekal untuk sarapannya. Sumiatipun selasai menyiapkan sarapan untuk ketiga anaknya. Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul enam pagi. Sumiati pun membangunkan kedua anaknya yang sedang tertidur pulas di kamar. Ia segera menyuruh Adit dan Rina untuk mandi dan bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Sumiatipun lantas ke dapur untuk mengambil sebuah keranjang yang akan ia gunakan bekarja sebagai alat untuk menampung daun teh yang akan ia petik. “Ani….Ani…”Pangilnya dengan suara yang tidak terlalu keras. “Ya bu.. Ada apa…??” tanya Ani kepada ibunya yang sudah siap berangkat bekerja. “Ibu berangkat dulu” Jawab Sumiati. Diambilnya ung Enam ribu rupiah dari kantung bajunya yang lusuh. “Ini untuk uang saku kalian bertiga,sudah ibu berangkat dulu” “Hati-hati bu”sahut ani. Memang setelah sepeninggalan suaminya, Sumiatipun harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya serta ketiga anaknya yang masih duduk dibangku sekolah. Namun Sumiati melakukan semua itu dengan ikhlas dengan harapan anak-ankanya kelak bisa memiliki kehidupan yang lebih layak kelak. Sumiatipun pergi meninggalkan anak-anaknya untuk bekerja, ia pun menelusuri sebuah gang kecil agar bisa sampai dipinggir jalan dimana teman-teman bekerja Sumiati sudah berkumpul untuk bekerja. Lima menit terlewati oleh para pekerja-pekerja tangguh itu, akhirnya sebuah mobil truk tua datang untuk menghantarkan Sumiati dan pekerja lainnya menuju kebun the dimana daun-daun teh segar telah menunngu untuk dipetik. Kehangatan sesama pekerjapun sangat kental terasa, canda,tawa bercampur baur diatas sebuah truk tua. Lima belas menit berlalu, akhirnya mereka tiba di areal kebun teh yang terhampar luas. Mereka tidak langsung memetik daun-daun, merak berkumpul untuk sarapan pagi bersama dengan bekal yang telah dibawa masing-masing. Sang mandorpun segera memerintahkan mereka untuk segera memetik daun-daun teh yang dari sedaritadi menunggu untuk dipetik. Sumiati segera menyiapkan peralatan untuk memetik daun teh. Tanpa menunggu lama jari-jari indah Sumiati mulai menari-neri diatas hijaunya daun teh. Ia tidak boleh salah memilh daun teh antara kualitas terbaik dan tidak. Sumiati memang sudah lama bekerja di PTP N VII pagaralam, jadi ia sudah mengerti betul mana daun teh terbaik. Waktu sudah menunjukan pukul dua belas sing ini artinya daun-daun teh yang sudah terkumpul harus segera dikumpulkan dan dibawah ke pabrik. Sumiatipun bergegas menghampiri teman-teman yang lain yang sudah terlebih dahulu berkumpul untuk menimbang daun-daun teh yang sudah mereka kumpulkan dari tadi. Tiba giliran Sumiati untuk menimbang hasil petikannya. “40 kilo”kata sang mandor kepada pencatat hasil petikan pekerja Walaupun kerja kersnya hanya dibayar Lima Puluh Satu ribu rupiah perhari namun tetap  terpancar senyum bahagia di wajah Sumiati mendengar suara itu, Setelah selesai penimbangna Sumiati dan Kawan-kawan segera beranjak pulang ke rumah masing-masing. Terpikir oleh Sumiati tentang keadaan anak-anaknya di rumah. Dilihatnya anak-anaknya sedang bermain di depan rumah sambil menunggu kepulangan ibu mereka. “ibu pulang, ibu pulang”Sambut gembira ketiga anak tersebut. Betapa senang dan bahagianya hati Sumiati melihat senyum dan kebahagian yang terpancar di raut muka ketiga anak itu. Senyum yang selalu terpancar saat melihat kepulangan ibu mereka dari tempat bekerja. Sumiati lantas menghampiri ketiga anaknya dan menyapa mereka “Sudah makan kalian” Tanya Sumiati “Belum bu, kami menunggu ibu” jawab Adit “Yuk makan, ibu juga sudah lapar” ajak Sumiati Mereka lantas menuju meja makan untuk makan siang bersama dengan lauk-pauk apa adanya yang sudah disiapkan oleh Ani. Mereka tampak lahap makan walaupun hanya ditemani lauk-pauk apa adanya, namun kehangatan keluarga membuat santap siang itu terasa sangat nikmat. Kehangatan inilah yang selalu menjadi penyemangat bagi Wanita Hebat ini dalam bekerja.**

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2013 in Tugas

 

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: